Perajin Knalpot Diminta Lebih Efisien

Agus Winarno (kanan) menerima kenangan dari DPRD Kota Tegal

PURBALINGGA,  Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Purbalingga Agus Winarno mengatakan perajin knalpot Purbalingga harus berlatih lebih efisien sehingga mampu meningkatkan produksi. Efisiensi yang dimaksud mencakup meminimalkan limbah, efektivitas kinerja SDM dan manajerial yang lebih profesional.

“Saya seringkali sampaikan kepada perajin knalpot. Pesaing Anda itu bukan tetangga sebelah Anda, tapi orang-orang luar negeri baik yang memproduksi knalpot di negerinya sendiri atau dia punya di Purbalingga. Jadi, harus diantispasi sedini mungkin salah satunya dengan efisiensi,” jelasnya saat menerima Kunjungan Kerja Komisi II DPRD Kota Tegal di Ruang Rapat Bupati, sabtu (24/8).

Agus mengatakan Purbalingga pernah mendatangkan para peneliti dan motivator dari Jerman untuk melatih para perajin knalpot agar lebih efisien dan meningkat produktivitasnya. Hasil penelitian para pakar dari Jerman itu dijabarkan kepada para perajin, beberapa diantaranya cara memotong logam yang tepat akan mengurangi limbah baik berupa serbuk maupun potongan-potongan sehingga dapat meningkatkan efisiensi.

“Pakar Jerman itu juga mengungkapkan bekerja dalam kondisi berdiri akan lebih meningkatkan efisiensi dan produktivitas hingga 15 persen dibandingkan yang bekerja dengan duduk,” katanya.

Menurut Agus, dari 386 perajin knalpot yang mengikuti pelatihan ini, hanya 70 orang yang mendengarkan dengan serius. Dan dari 70 orang ini yang melaksanakan hanya 3 orang. Dan dari 3 orang ini, yang melaksanakan hingga bertahan 1 tahun hanya 1 orang. Dan sekarang tak seorangpun perajin knalpot yang melaksanakan hasil pelatihan itu.

“Bagi para perajin kita, hal-hal semacam cara memotong yang benar, cara bekerja dan sebagainya itu sesuatu yang remeh. Padahal menurut para pelaku usaha di luar negeri, hal-hal yang tampaknya remeh ini ternyata sangat berarti secara signifikan, akan terlihat dalam angka produksi dan keuntungan dari tahun ke tahun,” imbuhnya.

Agus menambahkan para pelaku usaha mikro kecil di Purbalingga dan Indonesia umumnya sudah masuk dalam ranah industri tapi cara berpikirnya masih cara berpikir para petani yang harus menunggu hasil. Padahal, pertanian dengan industry jelas jauh berbeda. Pertanian hars menunggu karena tanaman butuh tumbuh dan dipengaruhi juga dengan iklim dan cuaca. Sementara industri sebenarnya tak terpengaruh dengan semacam itu.

“Padahal di era globalisasi seperti saat ini, pelaku industri meski hanya taraf mikro, harus berpikir bagaimana lebih efisien, produktif dan inovatif. Mental maju dan motivasi yang tinggi memang perlu lebih ditanamkan kepada para pelaku usaha kita, meski mikro kecil sekalipun agar cepat berkembang,” ungkapnya. (Cie)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *