• Uncategorized
  • 0

Kembangkan Batu Akik Klawing, Bupati Gerakan Ekonomi Kerakyatan.

DSC_0676PURBALINGGA, HUMAS – Kebijakan Bupati Purbalingga dalam mengembangkan kerajinan batu akik Klawing sempat mendapat tanggapan negative dari sejumlah pihak. Terutama adanya kekhawatiran akan terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi  bahan batu akik secara besar-besaran.

“Dibanding eksploitasi pasir dan batu untuk bahan bangunan, saya kira nilai kerugiannya lebih banyak (Sirtu-red) dari pada eksploitasi bahan akik Klawing,” kata Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto saat wawancara khusus dengan salah satu stasiun televisi swasta nasional di Pringgitan Rumah Dinas Bupati, Senin (2/2).

Menurut Bupati, dengan adanya kebijakan pengembangan batu akik Klawing, masyarakat justru akan semakin tahu dan mengenal potensi kekayaan alam yang dimiliki. Sehingga timbul upaya dari masyarakat terutama para pelaku kerajinan batu akik untuk ikut menjaga agar potensi itu tidak dieksploitasi secara besar-besaran.

“Saya sedang menyiapkan  regulasi yang akan mengatur pendayagunaan batu Klawing. Nanti kita susun peraturan bupati (perbup-red). Kalau perda penambangan itu kewenangan provinsi. Sehingga akan kami usulkan setelah perbup selesai kita godog,” jelasnya.

Sebelumnya, Bupati bahkan sudah memerintahkan kepada jajaran kepala desa, camat dan pemangku kepentingan lainnya untuk peduli dengan lingkungannya. Sehingga apabila terjadi eksploitasi batu Klawing besar-besaran dapat dicegah.  “Maka kekayaan batu Klawing kita terjaga dan termanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Purbalingga,” tandasnya.

Ekonomi Kerakyatan.

Bupati berkisah, dua tiga tahun yang lalu, masyarakat Purbalingga belum banyak yang mengerti potensi ekonomi yang dimiliki batu Klawing. Saat itulah justru terjadi ekspoitasi besar-besaran oleh para kolektor batu dari luar daerah, kemudian bahan batu akik Klawing dibawa keluar daerah dan dikembangkan di daerah lain. Saat batu Klawing booming, maka yang untung  bukan masyarakat Purbalingga tetapi para kolektor yang sudah mengeruk kekayaan alam Purbalingga itu.

“Saya mewajibkan PNS bukan hanya menjadi pemakai batu akik Klawing tetapi juga agar bisa  menjadi pemasar. Potensi PNS di Purbalingga hampir mencapai 10.000 orang. Kalau separonya dapat memasarkan kepada teman-temannya di luar daerah, maka produksi ekonomi kerakyatan akan tumbuh. Dan sekarang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Bupati merinci, upah memoles satu buah batu akik berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Dari pantauan yang dilakukan, seorang perajin, dalam sehari dapat memoles sedikitnya empat buah batu akik. “Kalau sehari penghasilan mereka Rp 100 ribu. Sebulan bisa mencapai Rp 3 juta. Itu sudah diatas UMR. Jadi tujuan saya adalah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Itu yang utama,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian Pedagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Agus Winarno menuturkan, atas kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan melalui kerajinan batu akik Klawing, pemkab telah menyiapkan anggaran hingga Rp 900 juta untuk mendukung proses produksi batu akik Klawing.

“Kalau disini ada prosesing akan ada nilai tambah yang dirasakan masyarakat. Proses ekploitasinya juga bisa lebih lambat dibanding ketika dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Konsekwensinya kita harus menyiapkan alat kerjanya, dan itu sudah kita anggarkan tahun ini,” jelasnya.

Berdasarkan pendataan, saat ini di Purbalingga berkembang ribuan perajin dan pemasar batu akik Klawing dari semula hanya terdapat 300 anggota Paguyuban Batu Akik Klawing. (Hardiyanto)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *